H. IMAM ASYROFI. AC, M.Pd.I adalah Praktisi Pendidikan/ Guru MIN 4 Bandar Lampung. Berikut tulisan beliau tentang ada hikmah dibalik tahun baru hijriyah.
Pada bulan Muharram ini terdapat satu peristiwa bersejarah yang tidak akan dilupakan oleh umat Islam diseluruh dunia, kejadian tersebut menentukan kemajuan dan syiar agama Islam, serta mampu mengubah peradaban manusia di dunia ini dan zaman jahiliyah menjadi zaman yang terang dengan datangnya agama Islam Yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang bersejarah itu adalah kejadian hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, bersama para sahahatnya dan kota Makkah menuju kota Madinah yang semula bernama kota Yasrib. Hijrah yang dilakukan oleh Rosulullah SAW 1437 tahun silam adalah suatu perjuangan yang sangat berat dan penuh pengorbanan. Mereka terpaksa meninggalkan kota kelahirannya, keluarga, harta benda, menuju kota yang helum mereka kenal sama sekali, melintasi padang pasir yang tandus. gersang dan panas, dikejar-kejar oleh musuh-musuh yang ingin membunuh mereka. Semua itu mereka lakukan dengan ikhlas tanpa bantuan siapapun, selain hanya mengharap pertolongan dan ridlo dari Allah SWT. Kalau kita pelajari dari sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa hijrah, kita akan mengetahui dan memahami bahwa berjihad menegakkan agama Allah SWT, merupakan tujuan utama dan di atas segala-galanya bagi kaum Muhajirin, maka sudah selayaknya kalau mereka mendapat tempat yang terpuji disisi Allah SWT. Dalam peristiwa hijrahterdapat banyak hal-hal dan kejadian yang dapat diambil hikmahnya untuk dijadikan pegangan oleh umat Islam dalam meneruskan syiar Islam dan mempersatukan umat untuk mencapai kesejahteraan seperti hainya yang dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikat persaudaraan hakiki membentuk persatuan dan kesatuan umat Yang didasari oleh ukhuwah Islamiyah. Sehingga mampu mewujudkan suatu kekuatan besar dan menakjubkan. Perjuangan kaum muslimin pada waktu itu herhasil membawa sejarah peradahan manusia menuju peradaban Islam yang maju sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat An Nisa’ Ayat 100 Artinya : Dan barangsiapa hijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ketempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa’ 100)
Dalam kehidupan masyarakat modern, kiranya umat Islam dituntut untuk menerapkan makna hijrah dalarn konteks perjuangannya. Peristiwa hijrah yang memperoleh sebuah fase baru dalam sejarah Islam dan mampu meletakkan landasan kokoh bagi perkembangan agama Islam ke segenap penjuru dunia adalah merupakan awal kebangkitan dunia Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw, dan para sahahatnya Muhajirin dan Anshar. Itu merupakan satu peristiwa yang indah, luar biasa, tak terlupakan sepanjang masa, penuh makna dan fenomena, serta hatu ujian bagi keimanan dan ketakwaan manusia kepada Tuhannya. Maka hijraturrasul ke kota Madinah sebagai peristiwa yang hanya sekali berlangsung dalam sejarah, dan kita yang hidup sekarang jelas tidak bisa mengulang kejadian itu, tetapi semangat dan hikmahnya tak akan pernah habis untuk kita gali dan kita teladani. Peristiwa hijrah ke kota Madinah tidak terlepas dan usaha nabi Muhammad SAW yang terlebih dahulu berdakwah kepada orang-orang Yastrib. Takkala musim ziarah (haji) ke baitullah tiba, orang-orang dari luar kota Mekkah berdatangan. kesempatan itu dimanfaatkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan dakwah (mengajak) orang-orang Yastrib untuk memeluk agama Islam. Usaha nabi Muhammad SAW berdakwah kepada orang-orang yatsrib (Madinah) cukup berhasil. Hal ini terbukti pada suatu malam, tahun ke-11 dari kenabian sewaktu nabi Muhammad SAW berada di bukit Aqahab Mina, beliau didatangi 6 orang yastrib (Madinah) dari keturunan Khazraj. Keenam orang itu menyatakan diri masuk Islam dihadapan nabi Muhammad SAW. Setelah itu nabi Muhammad Saw. mengajak keenam orang tersebut untuk melakukan bai’at (ikrar) atau perjanjian yang disebut. dengan sebutan ‘Baiah Aqabah’. Pada tahun ke- 13 dari kenabian (622 M) datanglah orang Madinah sebanyak 75 orang (73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan) ke Mekkah untuk mengadakan bai’at dengan Rasulullah Saw. di bukit Aqabah. Pada waktu itu nabi Muhammad Saw. didampingi oleh pamannya Abbas. walaupun ia belum masuk Islam. Kemudian nabi Muhammad Saw, mengambil janji mereka. Setelah selesai pembaiatan yang kedua ini. Rasulullah Saw, berkata kepada mereka: “Pilihlah 1 2 orang pemimpin dari kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung jawab masyarakatnya’. Mereka lalu rnemilih 9 orang dari Khazraj dan 3 orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu nabi Muhammad Saw berkata: “Tuan-tuan adalah penanggung jawab pengikut Isa bin Maryam” Dalam ikrar yang kedua ini mereka berkata “Kami berikrar mendengar dan setia diwaktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.” Baiat Aqabah kedua ini merupakan titik awal kemenangan dakwah Rasulullah Saw., dan dukungan suku Arab terhadap ajaran Allah,. akan memperlancar perkembangan Islam di muka bumi. Mendengar adanya Bai’ah Aqabah kedua ini, kafir Quraisy semakin berang, karena umat Islam telah memiliki satukekuatan di luar kota Mekkah, dan mcmpunyai penolong yaitu suku Aus dan Khazraj. Dengan semena-mena. kafir Quraisy melancarkan ancaman dan siksaan terhadap umat Islam. Keprihatinan Rasulullah Saw. terhadap penderitaan kaum muslimin di Mekkah mendorong beliau untuk menyuruh para sahabat berhijrah ke kota Madinah, karena kaum muslimin Madinah telah menanti kedatangan mereka dengan penuh pembelaan. Karena itu, berangkatlah para sahabat ke kota madinah dengan sembunyi-sernbunyi diawali oleh keberangkatan Abu Salamah dan istrinya. lalu menyusul para sahabat lainnya. Ada yang berhijrah secara terang-terangan seperti Umar bin Khattab. Dengan lantang beliau menyatakan hal itu kepada kafir Quraisy, namun mereka tidak dapat mencegah apalagi menghalanginya. Abu bakar memohon kepada Rasulullah Saw. untuk berhijjah juga, tetapi Rasulullah Saw. mengharapkan agar menunda keberangkatannya hingga Allah mengizinkan. Sebagian besar para sahabat berhijrah ke kota Madinah, dan hanya beberapa. orang sahabat saja yang masih tinggal di kota Mekkah, seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid binHaritsah dan sahabat dan golongan yang lemah. Apa yang telah diikrarkan pada Bai’ah Aqabah kedua benar-benar di laksanakan kaum muslimin Madinah. Mereka menerirna kedatangan kaum muslimin Mekkah dengan senang hati. Segala kebutuhan dan keperluan mereka segera dipenuhi, mereka ditempatkan dirumah-rumah orang Islam Madinah, keselamatan jiwa mereka dari ancaman kafir Quraisy dan suku Arab lainnya selalu dijaga, sehingga rnenentramkan hati mereka. Hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw, itu adalah untuk membentuk umat yang mempunyai kehormatan, kemuliaan dan dapat mengembangkan syiar agama dengan leluasan, hijrah yang mengarah kepada kebaikan hendaklah menjadi sikap hidup bagi umat Islam. Seseorang atau kelompok yang menghadapi kesulitan disuatu tempat atau berada dalam suatu keadaan Yang kurang menguntungkan untuk hidup dan mengamalkan agamanya, maka Islam menyuruh untuk melakukan hijrah guna merubah sikap dan mental demi meningkatkan taraf hidup dan pensyiaran agama Islam. Terjadinya peristiwa hijrah nabi Muhammad Saw. menanndakan bahwa Rasulullah telah memenuhi sunnah (perjalanan) saudara-saudaranya, yaitu para nabi sebelumnya. Tidak ada seorang nabipun yang tidak diusir dan dikeluarkan dari tempat kelahirannya. kemudian hijrah meninggalkannya’. Hal ini telah dilakukan sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa As. Sekalipun mereka memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi, tetapi mereka dihina oleh kaumnya sendiri. WaIaupun begitu mereka sabar dalam menghadapi ujian ini, supaya mereka menjadi contoh dan teladan yang baik bagi para pengikutnya dikernudian hari. Allah memberikan kepada umat manusia untuk memiliki tempat yang membawa manfaat, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut Ayat 56: Artinya : “Hai hamba-hambaku yang beriman sesungguhnya bumiku luas, maka sembahlah aku . (QS. Al-Ankabut : 56)
(Asyura’ / 10 Muharram) Hari Kemenangan Para Nabi
Tanggal 10 Muharram merupakan hari besar kita selaku umat Muslim. Pada tanggal 10 Muharram, Allah SWT telah memberikan anugerah-Nya kepada para Nabi dan Rasul utusan-Nya. Di antaranya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ atau 10 Muharram tersebut adalah :
Mengingat begitu banyaknya peristiwa-peristiwa yang berkeaan dengan hari Asyura’ tersebut, maka umat islam disunnatkan untuk mclaksanakan ibadab puasa serta lebih banyak bertafakur dan menamhah amalan ibadah-ibadah lainnya. Adapun keutamaan hari Asyura’ tersebut, Nabi Muhammad SAW telah menerangkannya di dalam hadits-hadits beliau, diantaranya adalah Dari Abu Qatadah r.a Ia berkata, Nabi SAW ditanya perihal puasa hariAsyura’ Lalu Rasulullah SAW menjawab, Puasa Asyura’ itu menghapus dosa tahun yang lalu.” (H.R. Muslim). Dari Ibnu Abbas r.a., ía berkata: “Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari Asyura’, Nabi SAW bertanya, “Hari apa ini?” Jawab mereka berkata: “Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dan musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasakannya.” Sabda Nabi SAW, “Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa. Karena itu Nabi mempuasakamiya dan menyuruh mempuasakannya.” (HR. Bukhari)
Dari Salamah bin Akwa r.a., katanya Nabi SAW menyuruh seorang laki-laki dan suku Aslam, sabdanya: “Beritahukanlah kepada orang banyak, bahwa siapa yang telah makan supaya ia mempuasakan sisa harinya dan siapa yang belum makan, hendaklah ia puasa, karena hari ini adalah hari Asyura’.” (HR. Bukhari). Sebagai penutup khutbah Jum’at kali ini, marilah kita melaksanakan bersama-sama amanat Allah SWT dan Rasulullah SAW tersebut dengan miat ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT di bulan Muharram ini. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk serta jalan yang terang kepada kita semua. Amin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamiin.
Semoga peristiwa hijrah yang dilakukan nabi Muhammad SAW. dapat kita ambil hikmahnya schingga kita dapat menjadi seorang mu’min yang lebih baik lagi dihadapan Allah Swt. dan dapat meningkatkan amal ibadah kita. Akhirnya. marilah kita memohon pertolongan kepada Allah semoga kita menjadi hamba yang dianugrahi dan dikasihi.
Pada bulan Muharram ini terdapat satu peristiwa bersejarah yang tidak akan dilupakan oleh umat Islam diseluruh dunia, kejadian tersebut menentukan kemajuan dan syiar agama Islam, serta mampu mengubah peradaban manusia di dunia ini dan zaman jahiliyah menjadi zaman yang terang dengan datangnya agama Islam Yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang bersejarah itu adalah kejadian hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, bersama para sahahatnya dan kota Makkah menuju kota Madinah yang semula bernama kota Yasrib. Hijrah yang dilakukan oleh Rosulullah SAW 1437 tahun silam adalah suatu perjuangan yang sangat berat dan penuh pengorbanan. Mereka terpaksa meninggalkan kota kelahirannya, keluarga, harta benda, menuju kota yang helum mereka kenal sama sekali, melintasi padang pasir yang tandus. gersang dan panas, dikejar-kejar oleh musuh-musuh yang ingin membunuh mereka. Semua itu mereka lakukan dengan ikhlas tanpa bantuan siapapun, selain hanya mengharap pertolongan dan ridlo dari Allah SWT. Kalau kita pelajari dari sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa hijrah, kita akan mengetahui dan memahami bahwa berjihad menegakkan agama Allah SWT, merupakan tujuan utama dan di atas segala-galanya bagi kaum Muhajirin, maka sudah selayaknya kalau mereka mendapat tempat yang terpuji disisi Allah SWT. Dalam peristiwa hijrahterdapat banyak hal-hal dan kejadian yang dapat diambil hikmahnya untuk dijadikan pegangan oleh umat Islam dalam meneruskan syiar Islam dan mempersatukan umat untuk mencapai kesejahteraan seperti hainya yang dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikat persaudaraan hakiki membentuk persatuan dan kesatuan umat Yang didasari oleh ukhuwah Islamiyah. Sehingga mampu mewujudkan suatu kekuatan besar dan menakjubkan. Perjuangan kaum muslimin pada waktu itu herhasil membawa sejarah peradahan manusia menuju peradaban Islam yang maju sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat An Nisa’ Ayat 100 Artinya : Dan barangsiapa hijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ketempat yang dimaksud, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa’ 100)
Dalam kehidupan masyarakat modern, kiranya umat Islam dituntut untuk menerapkan makna hijrah dalarn konteks perjuangannya. Peristiwa hijrah yang memperoleh sebuah fase baru dalam sejarah Islam dan mampu meletakkan landasan kokoh bagi perkembangan agama Islam ke segenap penjuru dunia adalah merupakan awal kebangkitan dunia Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw, dan para sahahatnya Muhajirin dan Anshar. Itu merupakan satu peristiwa yang indah, luar biasa, tak terlupakan sepanjang masa, penuh makna dan fenomena, serta hatu ujian bagi keimanan dan ketakwaan manusia kepada Tuhannya. Maka hijraturrasul ke kota Madinah sebagai peristiwa yang hanya sekali berlangsung dalam sejarah, dan kita yang hidup sekarang jelas tidak bisa mengulang kejadian itu, tetapi semangat dan hikmahnya tak akan pernah habis untuk kita gali dan kita teladani. Peristiwa hijrah ke kota Madinah tidak terlepas dan usaha nabi Muhammad SAW yang terlebih dahulu berdakwah kepada orang-orang Yastrib. Takkala musim ziarah (haji) ke baitullah tiba, orang-orang dari luar kota Mekkah berdatangan. kesempatan itu dimanfaatkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan dakwah (mengajak) orang-orang Yastrib untuk memeluk agama Islam. Usaha nabi Muhammad SAW berdakwah kepada orang-orang yatsrib (Madinah) cukup berhasil. Hal ini terbukti pada suatu malam, tahun ke-11 dari kenabian sewaktu nabi Muhammad SAW berada di bukit Aqahab Mina, beliau didatangi 6 orang yastrib (Madinah) dari keturunan Khazraj. Keenam orang itu menyatakan diri masuk Islam dihadapan nabi Muhammad SAW. Setelah itu nabi Muhammad Saw. mengajak keenam orang tersebut untuk melakukan bai’at (ikrar) atau perjanjian yang disebut. dengan sebutan ‘Baiah Aqabah’. Pada tahun ke- 13 dari kenabian (622 M) datanglah orang Madinah sebanyak 75 orang (73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan) ke Mekkah untuk mengadakan bai’at dengan Rasulullah Saw. di bukit Aqabah. Pada waktu itu nabi Muhammad Saw. didampingi oleh pamannya Abbas. walaupun ia belum masuk Islam. Kemudian nabi Muhammad Saw, mengambil janji mereka. Setelah selesai pembaiatan yang kedua ini. Rasulullah Saw, berkata kepada mereka: “Pilihlah 1 2 orang pemimpin dari kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung jawab masyarakatnya’. Mereka lalu rnemilih 9 orang dari Khazraj dan 3 orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu nabi Muhammad Saw berkata: “Tuan-tuan adalah penanggung jawab pengikut Isa bin Maryam” Dalam ikrar yang kedua ini mereka berkata “Kami berikrar mendengar dan setia diwaktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.” Baiat Aqabah kedua ini merupakan titik awal kemenangan dakwah Rasulullah Saw., dan dukungan suku Arab terhadap ajaran Allah,. akan memperlancar perkembangan Islam di muka bumi. Mendengar adanya Bai’ah Aqabah kedua ini, kafir Quraisy semakin berang, karena umat Islam telah memiliki satukekuatan di luar kota Mekkah, dan mcmpunyai penolong yaitu suku Aus dan Khazraj. Dengan semena-mena. kafir Quraisy melancarkan ancaman dan siksaan terhadap umat Islam. Keprihatinan Rasulullah Saw. terhadap penderitaan kaum muslimin di Mekkah mendorong beliau untuk menyuruh para sahabat berhijrah ke kota Madinah, karena kaum muslimin Madinah telah menanti kedatangan mereka dengan penuh pembelaan. Karena itu, berangkatlah para sahabat ke kota madinah dengan sembunyi-sernbunyi diawali oleh keberangkatan Abu Salamah dan istrinya. lalu menyusul para sahabat lainnya. Ada yang berhijrah secara terang-terangan seperti Umar bin Khattab. Dengan lantang beliau menyatakan hal itu kepada kafir Quraisy, namun mereka tidak dapat mencegah apalagi menghalanginya. Abu bakar memohon kepada Rasulullah Saw. untuk berhijjah juga, tetapi Rasulullah Saw. mengharapkan agar menunda keberangkatannya hingga Allah mengizinkan. Sebagian besar para sahabat berhijrah ke kota Madinah, dan hanya beberapa. orang sahabat saja yang masih tinggal di kota Mekkah, seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid binHaritsah dan sahabat dan golongan yang lemah. Apa yang telah diikrarkan pada Bai’ah Aqabah kedua benar-benar di laksanakan kaum muslimin Madinah. Mereka menerirna kedatangan kaum muslimin Mekkah dengan senang hati. Segala kebutuhan dan keperluan mereka segera dipenuhi, mereka ditempatkan dirumah-rumah orang Islam Madinah, keselamatan jiwa mereka dari ancaman kafir Quraisy dan suku Arab lainnya selalu dijaga, sehingga rnenentramkan hati mereka. Hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw, itu adalah untuk membentuk umat yang mempunyai kehormatan, kemuliaan dan dapat mengembangkan syiar agama dengan leluasan, hijrah yang mengarah kepada kebaikan hendaklah menjadi sikap hidup bagi umat Islam. Seseorang atau kelompok yang menghadapi kesulitan disuatu tempat atau berada dalam suatu keadaan Yang kurang menguntungkan untuk hidup dan mengamalkan agamanya, maka Islam menyuruh untuk melakukan hijrah guna merubah sikap dan mental demi meningkatkan taraf hidup dan pensyiaran agama Islam. Terjadinya peristiwa hijrah nabi Muhammad Saw. menanndakan bahwa Rasulullah telah memenuhi sunnah (perjalanan) saudara-saudaranya, yaitu para nabi sebelumnya. Tidak ada seorang nabipun yang tidak diusir dan dikeluarkan dari tempat kelahirannya. kemudian hijrah meninggalkannya’. Hal ini telah dilakukan sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa As. Sekalipun mereka memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi, tetapi mereka dihina oleh kaumnya sendiri. WaIaupun begitu mereka sabar dalam menghadapi ujian ini, supaya mereka menjadi contoh dan teladan yang baik bagi para pengikutnya dikernudian hari. Allah memberikan kepada umat manusia untuk memiliki tempat yang membawa manfaat, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut Ayat 56: Artinya : “Hai hamba-hambaku yang beriman sesungguhnya bumiku luas, maka sembahlah aku . (QS. Al-Ankabut : 56)
(Asyura’ / 10 Muharram) Hari Kemenangan Para Nabi
Tanggal 10 Muharram merupakan hari besar kita selaku umat Muslim. Pada tanggal 10 Muharram, Allah SWT telah memberikan anugerah-Nya kepada para Nabi dan Rasul utusan-Nya. Di antaranya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ atau 10 Muharram tersebut adalah :
- Nabi Adam a.s. diterima taubatnya oleh Allah SWT. Ketika Nabi Adam a.s. bersama Hawa masih tinggal di surga, beliau berdua memakan buah khuldi sehingga beliau berdua diturunkan ke muka bumi. Setelah Nabi Adam mempergiat ibadahnya, maka Allah SWT pun menenima taubatnya.
- Nabi Idris a.s. memperoleh derajat yang luhur dari Allah SWT disebabkan sifat belas kasih beliau terhadap sesamanya. Bahkan, Nabi Idris juga sangat memper hatikan danmembantu malaikat dalam mengatur matahari yang karena doa Nabi Idris a.s., maka malaikat dapat menjalankan tugasnya dengan lebih mudah.
- Nabi Musa a.s mendapat anugerah Allah yang sungguh sangat besar, yaitu Kitab Taurat. Hal itu terjadi ketika beliau a.s. berada di bukit Tursina (Sinai), beliau a.s. menerima wahyu yang langsung dan Allah SWT tanpa perantara malaikat.
- Nabi Ibrahim a.s. terhindar dan fitnah Raja Namrud, karena dituduh menghancurkan berhala di kuil pemujaan Namrud. Meskipun Nabi Ibrahim a.s. dibakar hidup-hidup,namun berkat pertolongan Allah SWT serta keteguhan iman beliau terhadap keadilan Allah, maka diri beliau a.s. selamat tanpa terluka atau kurang suatu apapun meski jilatan api yang hebat menyelimuti diri beliau.
- Nabi Nuh a.s. beserta para pengikut beliau turun dari perahu penyelamat setelah terjadinya banjir raksasa dan taufan yang dahsyat yang telah rnembinasakan orangorang yang durhaka kepada Allah SWT.
- Nabi Yusuf a.s. dibebaskàn dari penjara karena fitnah keji. Zulaihah menuduh beliau a.s. hendak memperkosanya, meski sebenarnya ia sendiri yang tertarik dengan ketampanan Nabi Yusuf a.s. serta mengajak berbuat serong. Fitnahan keji Zulaihah tidak mendasar setelah bukti-bukti menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. memang benar adanya.
- Nabi Ya’qub a.s. sembuh dan penyakit mata yang beliau derita akibat kabar perihal anak beliau, yakni Nabi Yusuf a.s., meninggal. Akibat kesedihan beliau sehingga beliau sering mengalirkan air mata sehingga akhirnya beliau tidak bisa melihat lagi. Ketika beliau mendengar kabar keselamatan anaknya, maka mata Nabi Ya’qub a.s. kembali terbuka dan kembali dapat melihat lagi.
- Nabi Yunus a.s. dapat keluar dari perut ikan Nun, satu jenis ikan yang amat besar. Beliau telah diselamatkan Allah SWT dari kejaran umatnya yang tidak beriman dengan cara ditelan ikan Nun saat beliau ménceburkan diri ke laut. Beliau a.s. selamat tanpa kurang suatu apapun setelah ikan Nun memuntahkan kembali dan selamat pula beliau dan fitnah umatnya yang tidak beriman tersebut.
- Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan istana yang sangat megah.
- Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya mendapat anugerah dan kewaspadaan dalam menetapi hidayah Al Qur’an.
Mengingat begitu banyaknya peristiwa-peristiwa yang berkeaan dengan hari Asyura’ tersebut, maka umat islam disunnatkan untuk mclaksanakan ibadab puasa serta lebih banyak bertafakur dan menamhah amalan ibadah-ibadah lainnya. Adapun keutamaan hari Asyura’ tersebut, Nabi Muhammad SAW telah menerangkannya di dalam hadits-hadits beliau, diantaranya adalah Dari Abu Qatadah r.a Ia berkata, Nabi SAW ditanya perihal puasa hariAsyura’ Lalu Rasulullah SAW menjawab, Puasa Asyura’ itu menghapus dosa tahun yang lalu.” (H.R. Muslim). Dari Ibnu Abbas r.a., ía berkata: “Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari Asyura’, Nabi SAW bertanya, “Hari apa ini?” Jawab mereka berkata: “Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dan musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasakannya.” Sabda Nabi SAW, “Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa. Karena itu Nabi mempuasakamiya dan menyuruh mempuasakannya.” (HR. Bukhari)
Dari Salamah bin Akwa r.a., katanya Nabi SAW menyuruh seorang laki-laki dan suku Aslam, sabdanya: “Beritahukanlah kepada orang banyak, bahwa siapa yang telah makan supaya ia mempuasakan sisa harinya dan siapa yang belum makan, hendaklah ia puasa, karena hari ini adalah hari Asyura’.” (HR. Bukhari). Sebagai penutup khutbah Jum’at kali ini, marilah kita melaksanakan bersama-sama amanat Allah SWT dan Rasulullah SAW tersebut dengan miat ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT di bulan Muharram ini. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk serta jalan yang terang kepada kita semua. Amin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamiin.
Semoga peristiwa hijrah yang dilakukan nabi Muhammad SAW. dapat kita ambil hikmahnya schingga kita dapat menjadi seorang mu’min yang lebih baik lagi dihadapan Allah Swt. dan dapat meningkatkan amal ibadah kita. Akhirnya. marilah kita memohon pertolongan kepada Allah semoga kita menjadi hamba yang dianugrahi dan dikasihi.
Posting Komentar untuk "ADA HIKMAH DIBALIK TAHUN BARU HIJRIYAH Oleh H. IMAM ASYROFI. AC, M.Pd.I "